Selasa, 12 April 2011

Potensi dan Prospek Pengembangan Minyak Atsiri di Indonesia




Indonesia sejak era tahun 60-an dikenal sebagai negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia terutama minyak atsiri nilam dan hingga sekarang minyak atsiri nilam dari Indonesia masih sangat dikenal di pasar dunia.
Produk ini mempunyai orientasi export. Minyak atsiri nilam digunakan di industri parfum sebagai zat pengikat aroma dan perannya belum mampu digantikan oleh zat sintetis, sehingga kebutuhan minyak atsiri nilam di dunia besar sekali.
Nilam (Pogostemon cablin Benth) yang termasuk dalam keluarga Labiatea merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting bagi Indonesia, karena minyak yang dihasilkan merupakan komoditas ekspor yang cukup mendatangkan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor minyak nilam mempunyai prospek yang baik, karena dibutuhkan secara kontinyu dalam industri kosmetik, parfum, sabun dan lain-lain. Dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak atsiri lainnya (Indonesia memiliki sekitar 200 species tanaman yang menghasilkan minyak atsiri), nilam mempunyai keunggulan tersendiri sebagai unsur pengikat (fikatif) yang terbaik untuk wewangian (parfum). Hal ini disebabkan karena daya lekatnya yang kuat sehingga aroma wangi tidak mudah hilang karena tercuci atau menguap, dapat larut dalam alkohol dan dapat dicampur dengan minyak esteris lainnya.
Nilam adalah tanaman yang berumur produktif selama 1-2 tahun. Panen pertama dapat dilakukan pada umur 6-8 bulan setelah tanam, dan panen selanjutnya dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Setelah 1,5 tahun tanaman nilam memerlukan peremajaan. Di Indonesia hingga kini terdapat tiga jenis nilam yang sudah dikembangkan yaitu Pogostemon cablin Benth, Pogostemon heyneanus Benth, don Pogostemon hortensis Benth. Pogostemon cablin Benth dikenal sebagai nilam Aceh karena banyak diusahakan di daerah itu. Nilam jenis ini tidak berbunga, daun berbulu halus dengan kadar minyak 2,5-5,0%. Pogostemon heyneanus Benth dikenal dengan nama nilam Jawa, tanaman berbunga, daun tipis dan kadar minyak rendah, berkisar antara 0,5-1,5%. Pogostemon hortensis Benth mirip nilam Jawa tetapi juga tidak berbunga, dapat ditemukan di daerah Banten dan sering disebut sebagai nilam sabun.
Ada tiga jenis tanaman nilam yaitu nilam Aceh (Pogostemon cablin), nilam Jawa (Pogostemon hortensis) dan nilam tipis (Pogostemon heyneanus). Di antara ketiga jenis ini, nilam Aceh adalah yang terbaik, karena memiliki kadar atsiri tertinggi yakni 2,5%- 5%, sedang jenis lain hanya 0,5%. Disebut nilam Aceh sekaligus menunjukkan bahwa yang menjadi sentra produksi minyak nilam di Indonesia, memang Daerah Istimewa Nangroe Aceh Darussalam, di samping Sumatera Utara dan Sumatera Barat, lebih dari 80% minyak nilam di Indonesia dihasilkan dari ketiga propinsi tersebut.
Seluruh bagian tanaman ini mengandung minyak atsiri, namun kandungan minyak terbesar pada daunnya. Di pasar intemasional minyak - nilam dikenal dengan nama "Patchouli oil". Hasil tanaman nilam adalah minyak yang didapat dengan cara menyuling batang dan daunnya, belum ada senyawa sintetis yang mampu menggantikan peran minyak nilam dalam industri parfum dan kosmetika.
Dalam dunia perdagangan dikenal dua macam nilam yaitu "Folia patchouly naturalis" (sebagai insectisida) dan "depurata" (sebagai minyak atsiri). Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang bahan bakunya berasal dari berbagai jenis tanaman perkebunan. Minyak atsiri dari kelompok tanaman tahunan perkebunan antara lain berasal dari cengkeh, pala, lada, kayu manis, sementara yang berasal dari kelompok tanaman semusim perkebunan berasal dari tanaman nilam, sereh wangi, akar wangi dan jahe. Hingga kini minyak atsiri yang berasal dari tanaman nilam memiliki pangsa pasar ekspor paling besar andilnya dalam perdagangan Indonesia yaitu mencapai 60 persen.
Minyak nilam merupakan produk yang terbesar untuk minyak atsiri dan pemakaiannya di dunia menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat. Dapat dikatakan bahwa hingga saat ini belum ada produk apapun baik alami maupun sintetis yang dapat menggantikan minyak nilam dalam posisinya sebagai fixative.
Data ekspor BPS menunjukkan bahwa kontribusi minyak nilam (Patchouli oil) terhadap pendapatan ekspor minyak atsiri sekitar 60%, minyak akar wangi (Vetiner oil) sekitar 12,47%, minyak serai wangi (Citronella oil) sekitar 6,89%, dan minyak jahe (Ginger oil) sekitar 2,74%. Rata-rata nilai devisa yang diperoleh dari ekspor minyak atsiri selama sepuluh tahun terakhir cenderung meningkat dari US$ 10 juta pada tahun 1991 menjadi sekitar US$ 50-70 dalam tahun 2001, 2002 dan 2003, dengan nilai rata-rata/kg sebesar US$ 13,13. Walaupun secara makro nilai ekspor ini kelihatannya kecil namun secara mikro mampu meningkatkan kesejahteraan petani di pedesaan yang pada gilirannya diharapkan dapat mengurangi gejolak sosial.
Minyak atsiri sebagai bahan baku penambah aroma, parfum dan farmasi memang banyak diminta. Menurut Data Badan Pengembangan Ekspor Nasional pada tahun 2002 rata-rata ekspor minyak atsiri untuk 5 (lima) tahun terakhir mencapai US$ 51,9 juta dengan 77 negara tujuan ekspor. Singapura dan Amerika Serikat adalah penyerap tersebar ekspor minyak atsiri Indonesia masing-masing adalah penyumbang devisa negara US$ 20 per tahun dan US$ 10 juta per tahun. Dari ekspor tersebut minyak nilam mempunyai permintaan sebesar 60 % Nilam termasuk komoditas unggulan nasional dengan luas 9.600 ha dan produksi sebesar 2.100 ton minyak. Berdasarkan data yang diberikan oleh seorang eksportir minyak nilam, kebutuhan minyak nilam dunia berkisar antara 1.100-1.200 ton/ tahun, sedangkan pasokan ini dapat dihasilkan minyak nilam melalui penyulingan daun dan tangkai daun.
Kendala-kendala dalam agribisnis nilam antara lain budidaya yang belum sempurna, bahan tanaman yang kurang sesuai, panen, penanganan bahan dan penyulingan yang kurang baik mengakibatkan produktivitasnya rendah. Faktor lain adalah kekeringan (iklim) dan fluktuasi harga. Kekeringan selain karena kemarau panjang juga disebabkan fenomena alam yaitu dikenal dengan El Nino. Nilam sangat peka terhadap kekeringan, kemarau panjang setelah pemangkasan dapat menyebabkan tanaman mati. Suhu yang dikehendaki sekitar 24-28°( dengan kelembaban relatif lebih dari 75% dan intensitas radiasi. surya 75-100%.
Balittro telah mengoleksi ± 100 aksesi nilam yang diperoleh dari hasil eksplorasi, somaklonal dan fusi protoplas antara nilam Jawa dan nilam Aceh. Dari beberapa nomor ekplorasi telah diseleksi dan diperoleh 4 klon harapan yang berkadar minyak relatif tinggi (> 2,5%) dan kadar patchouli alkohol > 30%. Klon-klon harapan tersebut adalah : Cisaroni, Lhokseumawe 2, Sidikalang dan Tapak Tuan.
Selain nilam, komoditas yang bisa diambil minyak atsirinya antara lain : daun cengkeh, bunga melati, serei dan lain-lain. Minyak atsiri dari komoditas ini digunakan untuk bahan di industri farmasi dan di manfaatkan untuk aroma terapi.
Pangsa minyak atsiri Indonesia di pasar internasional mencapai 80 %.  Permasalahan utama adalah mutu minyak sebagai akibat dari prosesing yang tidak sepenuhnya memenuhi standar, antara lain penggunaan alat penyuling tradisional.    Untuk mengatasi permasalahan tersebut, teknologi yang tersedia adalah alat penyuling tipe Balittro dengan design baru dari stainless steel, pendingin dan pemisah minyak, hemat bahan bakar. Khusus nilam, daerah pengembangan potensial meliputi : Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu. Nilai ekspor  per tahun mencapai US $ 74,26 juta.
Dari beberapa jenis minyak tersebut minyak nilam memiliki potensi strategis untuk dikembangkan, mengingat di pasar dunia membutuhkan 1.200 - 1.400 ton minyak nilam setiap tahun dan volume itu cenderung terus meningkat, sementara produksi yang tersedia baru mencapai 1.000 ton per tahun. Harga di pasar lokal berkisar Rp 250.000 per kilogram. Dalam 10 tahun terakhir ini, peningkatan volume ekspor komoditi ini cukup tajam, yakni sekitar 6 % per tahun. Indonesia memasok sekitar 90% kebutuhan minyak nilam dunia (Direktorat Neraca .Produksi BPS: 2002).
Harga minyak nilam di pasar lokal (di tingkat agen eksportir) berkisar Rp 200.000 - Rp 250.000 per kg. Importir minyak nilam terbesar saat ini adalah Amerika Serikat (lebih 200 ton per tahun), disusul lima negara Eropa, masing-masing Inggris (45-60 ton/th), Perancis, Swiss (40-50 ton/th), Jerman (35-40 ton/th) dan Belanda (30 ton/th). Beberapa eksportir minyak nilam mengaku masih kesulitan memenuhi pesanan minyak nilam yang datang dari mancanegara. PT Jasu-Lawangi, eksportir minyak atsiri terbesar di Indonesia baru bisa memasok 50 ton atau sekitar 10% dari permintaan. Permintaan cukup besar juga datang dari India, Belgia, Jepang, dan Singapura.

Tabel 1.  Kontribusi terhadap Produk Nasional


Komoditas
Kebutuhan Dalam Negeri (ton)
Bahan Baku Industri
Ekspor
Produk Primer (ton)
Produk Olahan (ton)
Jumlah (ton)
Nilai
(000 US $)
Karet
Kelapa
Kelapa sawit
Kopi
Lada
Cengkeh
Jambu mete
Pala
Kayumanis
Tebu
Tembakau
Kapas
Jahe
Kakao
Kapolaga
Panili
Gambir
Nilam
Seraiwangi
Jarak
Pinang
3.662.472
3.712.071
2.967.079
1.140.159
131.193
429.758
535.745
59.925
123.979
340.800
158.133
19.382
10.220
582.155
5.643
17.241
0
10.501
2.859
18.817
87.514

1.647.808
25.593

355.781
37.419
20.157
28.603
7.550
35.784

7.057
48
32.807
387
264
729
6.022


1.751

76.430
6.054

645
579

1.683
2.020

7.398
1.058
95
508
52.083
0,3


1.355
1.724.238
31.647

356.426
37.998
20.157
30.286
9.570
35.784
7.398
8.115
143
33.315
52.470
264,3
729
6.022
1.355

          1.751
1.268.911.
24.628

582.390
187.732
14.114
34.996
36.767
31.392
3.747
18.007
96
9.895
110.988
1.299
8.764
8.234
53.117

270

 Tabel 2.  Penyerapan Tenaga Kerja dan Luas Areal
Komoditas
On Farm (orang)
Off Farm (orang) 
Perkebunan Rakyat
Perkebunan Besar
Jumlah
Industri Prosesing
Luas Areal (ribu ha)
Karet
Kelapa
Kelapa sawit
Kopi
Lada
Cengkeh
Jambu mete
Pala
Kayumanis
Tebu
Tembakau
Kapas
Jahe
Kakao

Kapolaga

Panili
Gambir
Nilam
Seraiwangi
Jarak
Pinang
1.565.885
1.434.108
486.373
949.351
65.352
294.595
210.528
23.684
49.572
364.814
556.174


356.545

6.842
265.351
50.720
992.167
190.000
6.236
3.770
286
192
316.790
316.790
13.104
34.888
18.398
109.179
67.772
18

10.601



1.831.236
1.484.828
1.478.540
949.541
71.598
298.365
210.814
23.876
366.362
681.604
569.278
34.888
18.398
485.724
67.772
6.860

10.601

97.865
6.337
15.715
23.401

196.943




559.931
3.662.472
3.712.071
2.957.079
1.140.159
131.109
429.758
535.745
59.925
123.979
340.802
158.133
19.382
10.220
582.155
5.643
17.241

10.601
2.850
18.817
87.514

1.      Produksi nilam di Propinsi Kalimantan Tengah
Di Propinsi Kalimantan Tengah nilam digunakan sebagai komoditas rintisan. Mulai ditanam petani di kabupaten Kotawaringin Timur, propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1999. Dimulai dari pencaharian bibit nilam ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) oleh petani transmigrasi Kalimantan Tengah yang berminat sekali menanam nilam, karena pada saat itu harga minyak nilam melonjak cukup tinggi dan bahkan pada tahun 1997, harga minyak nilam mencapai Rp. 1.000.000,- per kg.
Pada saat ini telah terbentuk kelompok-kelompok tani di desa-desa, sehingga penanaman nilam telah berkembang. Sistem tanam adalah secara monokultur dan tumpangsari dengan tanaman hortikultura antara lain dengan kacang panjang, mentimun, terong dan semangka dengan tujuan untuk mengoptimalkan lahan dan meningkatkan pendapatan. Penanaman dengan menggunakan bibit (setek) yang langsung ditanam di lapang dan dengan disemaikan terlebih dahulu dalam polibag.
Untuk menghemat bibit sebaiknya dengan menggunakan polibag, karena sistem perakaran sudah terbentuk. Penanaman nilam di Kalimantan Tengah hanya satu tahun dengan panen 2-3 kali, karena kadar patchouli alkohol (PA) yang merupakan salah satu kualifikasi mutu untuk minyak nilam semakin menurun disebabkan oleh iklim dan tanah yang kurang subur. Di samping dijual berupa minyak, hasil panen nilam di Kalimantan Tengah dijual dalam bentuk terna basah dengan harga Rp 1.000,- - 1.500,-/kg dan terna kering dengan harga 2.500,- 3.000,-/kg. Harga setek nilam di Kalimantan Tengah berkisar antara Rp. 500,- 1.000,-per setek.
Semakin bertambahnya luas areal penanaman nilam menunjukkan bahwa tanaman tersebut diminati oleh petani di Kalimantan Tengah, karena mempunyai prospek dan peluang pasar yang cukup tinggi. Untuk mendapatkan minyak atsiri yang mempunyai rendemen minyak dan kadar patchouli alkohol tinggi, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yaitu teknologi budidaya, faktor iklim terutama curah hujan, lahan (topografi atau bentuk wilayah, elevasi) dan peluang pasar.
Produksi nilam berupa minyak atsiri dapat ditampung oleh KUD setempat (Kecamatan Parenggean). Sistem pemasaran minyak nilam selama ini adalah melalui pedagang pengumpul di tingkat petani dan pedagang pengumpul di tingkat kecamatan kemudian ke eksportir. Harga minyak nilam saat ini di Kalimantan Tengah adalah Rp 150.000 - 170.000/kg, dan di pulau Jawa dengan harga Rp. 245.000/liter. Harga minyak nilam berfluktuasi tergantung pada kadar Patchouli Alkohol (PA).
Penyulingan cara petani mempunyai rendemen dan mutu minyak yang rendah. Rendahnya mutu tersebut disebabkan antara lain cara penanganan bahan baku dan penyulingan daun nilam menggunakan drum-drum bekas sebagai penyulingannya, sehingga minyak berwarna coklat keunguan. Oleh sebab itu diperlukan pembinaan melalui penyuluhan dan pengkajian mulai dari budidaya, penyulingan, introduksi alat penyulingan dan aspek pemasaran dengan memperhatikan tingkat kesesuaian lahan dan iklim.
Untuk mendukung usaha pengembangan tanaman nilam sehingga Indonesia tetap merupakan pemasok minyak nilam terbesar di pasaran dunia dan untuk meningkatkan pendapatan petani, maka diperlukan beberapa upaya antara lain yaitu penggunaan benih unggul, perbaikan budidaya dan penanganan pasca panen yang lebih baik. Untuk menjamin kemurnian benih unggul nilam dalam jumlah yang memadai perlu diupayakan pendirian kebun induk nilam yang selanjutnya dapat diperbanyak sebagai benih sebar.

2.      Produksi nilam di Propinsi Kalimantan Barat
Ada beberapa jenis tanaman bahkan mungkin banyak yang tumbuh di Kalimantan Barat yang belum digali dan di kembangkan, yang selama ini orang hanya mengunakannya sebagai bumbu masak/dapur atau obat-obatan tradisional, antara lain; lada, jahe, sereh, kunyit, kencur, daun salam, dll, yang sebenarnya tanaman tersebut memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi jika diolah menjadi minyak atsiri.
Minyak atsiri (essential oil) adalah minyak eteris atau minyak terbang yang memiliki sifat mudah menguap, berbau khas sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, getir, memabukkan, larut dalam larutan organik namun tidak larut dalam air. Minyak atsiri bersumber dari setiap bagian tanaman yaitu daun, bunga, buah, biji, batang, kulit, akar atau umbi (rizhoma). Minyak atsiri merupakan bahan baku untuk produk farmasi dan kosmetik alamiah disamping digunakan sebagai kandungan dalam bumbu maupun pewangi (flavour and fragrance ingredients). Ada sekitar 80 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di pasar internasional. Saat ini Indonesia baru mengekspor sekitar 12 (duabelas) jenis minyak atsiri antara lain : Minyak Nilam, Minyak Akar Wangi, Minyak Sereh Wangi, Minyak kenanga, Minyak Kayu Putih, Minyak Sereh Dapur, Minyak Cengkeh, Minyak Cendana, Minyak Pala, Minyak Kayu Manis, Minyak Kemukus dan Minyak Lada.
Melihat nilai yang cukup ekonomis dari minyak atsiri nilam tersebut, ini merupakan peluang bagi Kalimantan Barat khususnya untuk mengembangkan potensi tersebut. Hal ini juga didukung oleh daerah Kalimantan Barat yang memiliki lahan yang terbentang luas untuk dikembangkan tanaman atsiri tersebut. Sebagai contoh, ada beberapa jenis tanaman yang telah dibudidayakan seperti tanaman nilam dan jahe yang berlokasi di kota Pontianak Jl. 28 Oktober Budi Utomo.
Sudah saatnya Kalimantan Barat menjadi bagian sebagai daerah pengahasil minyak atsiri untuk mendukung daerah-daerah lain. Oleh karena itu Pemerintah Propinsi, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan serta Dinas Perindustrian Kalimantan Barat, kiranya dapat bersinergi untuk melirik daerah-daerah yang potensial sebagai sentra industri dalam pengembangan minyak atsiri dan penghasil tanaman yang mengandung minyak atsiri lainnya, serta memilih jenis-jenis tanaman yang sesuai dengan struktur tanahnya sehingga dapat tumbuh dengan subur. Tanaman yang dapat dikembangkan tersebut antara lain seperti; nilam, kenanga, sereh, jahe, lada, salam, dll.. Memang tidak semua tanaman penghasil minyak atsiri tersebut dapat tumbuh mudah di daerah Kalimantan Barat yang memiliki keasaman tanah yang cukup tinggi antara pH 3,5-4,5. Ini merupakan tantangan bagi instansi terkait untuk mengkaji dan meneliti lebih lanjut tanaman apa saja yang dapat dikembangkan.
Untuk mendapatkan minyak atsiri dengan kualitas yang baik sehingga memiliki nilai jual yang menjadi lebih tinggi, diperlukan teknologi yang tepat dan sumber daya manusia yang kompeten, dan didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup memadai dan berkelanjutan. Manfaat lain dari dikembangkannya minyak atsiri ini akan membuka lapangan kerja baru bagi petani khususnya dan bagi masyarakat Kalimantan Barat pada umumnya. Selain itu hal ini akan memberikan peluang bagi Pemerintahan Kota dan Kabupaten untuk dapat menciptakan iklim usaha yang mendukung pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam dari berbagai sektor, untuk dapat diolah lebih lanjut menjadi produk-produk industri yang memiliki nilai tambah yang cukup besar guna menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD).

3.      Akarwangi Merupakan Komoditi Unggulan Jawa Barat
            Di dalam Surat Edaran Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat Nomor. 525/1517/Prod/2001 tanggal 27 Agustus 2001 tentang Komoditas Perkebunan Di Jawa Barat bahwa pengertian Komoditi unggulan adalah komoditas yang diunggulkan suatu daerah yang tumbuh dan berkembang dengan baik karena sesuai dengan agroklimat setempat ( kondisi tanah dan iklim ) yang mempunyai peran sebagai berikut :
- Sebagai penghasil devisa dan mempunyai pangsa pasar yang besar dalam perdagangan lokal, regional maupun global.
- Sebagi sumber penghasilan dan pendapatan utama yang tersebar disebagian wilayah diantaranya sudah menjadi komoditas sosial di Jawa Barat.
- Merupakan komoditas spesifik lokalita yang mempunyai keunggulan, kompetitif dan kooperatif.
- Berkembang dan menjadi unggulan daerah.
Akarwangi dalam Surat Edaran Kepala Dinas Perkebunan tersebut merupakan salah satu komoditi unggulan,disamping itu juga merupakan komoditi lokalita artinya yang tumbuh baik sesuai dengan agroklimat yang ada di salah satu kabupaten yaitu di Garut . Dan telah berkembang yang saya ketahui sejak tahun 1980 yang selanjutnya ditetapkan oleh Keputusan Gubernur nomor 30 Tahun 1990 tentang Penyempurnaan Ketentuan Ketentuan Penanaman dan Penyulingan Serehwangi Akarwangi di Jawa Barat yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Bupati Garut nomor 520/SK196-huk/90 tentang Areal Penanaman ,Pengolahan dan Penyulingan Akarwangi di Kabupaten Garut ;didalamnya ditetapkan 4 kecamatan yaitu kecamatan Leles, Cilawu, Bayongbong dan Samarang dengan luas areal 2.400 Ha.
Indonesia sebagai negara penghasil minyak atsiri - Akarwangi sering disebut produsen Java vertiver oil. . Prospek pasar, baik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri, komoditi ini pada masa yang akan datang cukup besar, seiring dengan semakin tingginya permintaan terhadap parfum/kosmetika, trend mode dan belum berkembangnya barang substitusi essensial oil yang bersifat pengikat (fiksasi) dalam industri parfum/kosmetika.
Untuk mempertahankan kelangsungan keberadaan komoditi Akarwangi ini perlu ditindaklanjuti melalui kegiatan yang dilakukan dalam rehabilitasi/intensifikasi tanaman penghasil minyak atsiri (akarwangi) adalah:
1. Perbaikan budidaya tanaman akarwangi dengan menggunakan benih dari varietas unggul;
2. Pembangunan kebun penangkar benih di lokasi pengembangan untuk menjamin ketersediaan benih dari varietas unggul ;
3. Pengawalan dan pendampingan pelaksanaan teknis pengembangan tanaman penghasil minyak atsiri, penanganan pasca panen dan pengolahan;
4. Peningkatan SDM petani melalui berbagai pelatihan dan pendampingan;
5. Penumbuhan dan pengaktifan/dinamika Kelompok Tani Tanaman Penghasil Minyak atsiri;
6. Memfasilitasi pengawalan kegiatan di tingkat pusat serta pembinaan petani Tanaman Penghasil Minyak Atsiri oleh petugas provinsi, kabupaten dan penyuluh.
Luas areal akar wangi di tahun 2006 yang diusahakan petani Kabupaten Garut adalah 2045 Ha dengan produksi 59 ton minyak atsiri dengan harga Rp. 330.500.- /kg di tingkat petani.

verietas unggul nilam (Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan),



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. ?. Industri Destilasi Atsiri. http://anekamesin.com/industry-development. Diakses tanggal 22 November 2007.

Anonim.?. .http://www.litbang.deptan.go.id. Diakses tanggal 22 November 2007.
                    
Suwanda, Mamat Haris.  2002. Analisis Efisiensi Penelitian dan Dampaknya terhadap Ekonomi Nasional Studi Kasus pada Tanaman Perkebunan. http://tumoutou.net/702_05123/mamat_hs.htm. Diakses tanggal 22 November 2007.

Usmadi. 2006. Potensi dan Peluang Minyak Atsiri Nilam. http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=115282. Diakses tanggal 22 November 2007

 



.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar